Lestarikan Lingkungan, HIMAPA USB YPKP Tanam Pohong Mangrove di Cirebon


Ratusan aktivis lingkungan, mahasiswa, dan warga pencinta lingkungan menanam 2.811 pohon mangrove di pesisir Pantai Desa Jadimulya, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Minggu 27 November 2016. Jumlah pohon yang ditanam sengaja dipilih berdasarkan tanggal peringatan Hari Menanam Pohon Nasional yang jatuh setiap 28 November.

Dari ratusan yang hadir itu, diantaranya adalah ada dua orang  Mahasiswa dari Himpunan Mahiswa Pecinta Alam (HIMAPA) Universitas Sangga Buana YPKP yaitu Ketua Umum HIMAPA USB YPKP 2016-2017 dan Anggotanya Heria Nugraha Anggota dari Angkatan Lembah Badai.

Menurut Entis, ia dan anggotanya hadir jauh-jauh dari Bandung karena mendapat undangan dari Himapa Universitas Unswagati, Cirebon.

“Acara seperti ini memang sudah biasa kita lakukan menjadi bidang garapan kita. Kita hadir karena diundang, selain itu tentu saja ini juga menjadi ajang silaturahim dengan Mahasiswa Pecinta Alam dari kampus-kampus lain, karena dari kampus-kampus lain juga banyak yang datang,” katanya.

Kegiatan penanaman pohon Mangrove ini, dinilai Etnis sangat bagus karena melibatkan banyak masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak kecil, siswa, mahasiswa, pemuda, aktivis lingkungan dan masyarakat umum.

“Bagus acaranya, melibatkan banyak warga, anak kecil, karena dari kecil anak-anak sudah tahu bagaimana tentang pentingnya merawat lingkungan,” ujarnya.

“Apalagi ini kan menanam pohon Mangrove, dan kita tahu pohon Mangrove itu banyak sekali jenis-jenisnya dan manfaatnya, selain untuk mengurangi abrasi (pengikisan lahan daratan), Mangrove juga setelah saya berbincang-bincang dengan teman-teman yang lain ternyata juga bisa bermanfaat untuk yang selain seperti membuat accesoris dan masih banyak yang lainnya,” tambahnya.

Entis mengatakan bahwa ia dan teman-teman di HIMAPA USB YPKP juga pernah melakukan penanam pohon di Garut, tapi bukan pohon Mangrove, dan tempatnya juga bukan di pantai tapi di daerah perhutanan.

“Mudahan-mudahan ke depan kita bisa bikin kegiatan seperti ini di Bandung,” tuturnya.

Bandung sendiri menurut Entis berdasarkan pengamatan dan yang dirasakannya kondisi lingkungan nyasaat ini panas.

“Sekarang sudah banyak kendaraan, lahan juga terus berkurang dibangun gedung-gedung yang tinggi sementara lahan terbuka jumlahnya sedikit,” pungkasnya.

Sementara itu, menurut salah seorang aktivis lingkungan yang hadir pada acara tersebut, Atik Yuliana, menanam pohon mangrove dipilih sebagai salah satu kegiatan mengisi Hari Menanam Pohon, karena keprihatinan akan laju abrasi yang semakin mengancam keberadaan pantai Cirebon.

“Menanam mangrove, memang tidakharus di hari yang spesial. Namun ternyata mengumpulkan hingga ratusan orang seperti saatini, butuh momen spesial. Begitu kami sebar ke media sosial dalam rangka Hari Menanam Pohon, banyak yang antusias,” ucapnya.

Menurut dia, dengan laju abrasi mencapai 2 meter per tahun, lama-lama daratan Cirebon akan semakin habis. Sebagai pohon keras, katanya, mangrove mampu menahan laju abrasi melalui akar-akarnya.

“Mangrove merupakan tanaman multifungsi, karena bisa dijadikan solusi abrasi, juga bisa dijadikan makanan dan minuman,” ucapnya.

Ketua LSM Panglaot Yudha Putra, Teuku Fachrudin menambahkan, abrasi memang hanya bisa dilawan oleh penanaman mangrove. Akar pohon mangrove, ucapnya, bisa menambah daratan sepanjang beberapa meter jika dilakukan secara kontinyu.

“Beberapa waktu lalu, sekitar 12.000 mangrove rusak akibat hantaman gelombang tinggi,” katanya.

Saat ini, menurut Fachrudin, penanaman mangrove sebanyak 2.811 pohon tersebut akan sangat membantu upaya pemulihan kawasan tersebut.

“Jasa pohon mangrove di sepanjang pantai di Kecamatan Gunung Jati ini tidak sedikit. Ribuan pohon ini telah berjasa menahan laju abrasi, dan terbukti telah menambah 12 hektar lahan dengan penambahan bibir pantai sepanjang 150 meter sejak ditanam pada 2013 lalu,” paparnya.

Menurut dia, saat 12 ribu pohon mangrove mati beberapa waktu lalu, impian agar kawasan tersebut, bisa dijadikan eko wisata serta kawasan arboretrum pun semakin jauh dari harapan. Di pantai Jadimulaya, katanya, sebelum pohon mangrove mati akibat dihantam gelombang, koleksinya sudah cukup lengkap. Sebelum banyak tanaman mati, untuk menuju arboretrum ini hanya dibutuhkan penanaman 60 persen lagi.

“Namun sekarang, butuh kerja keras lagi. Kita akan terus perbaiki dan menambah kolekasi mangrove, sehingga kawasan arboretrum di pantai Desa Jadimulya bisa tercipta,” ucapnya. [adipermanasidik/humas]

SILAHKAN BERTANYA